Tapak Tilas Sejarah Startup Peternakan Sapi di Indonesia

Tapak Tilas Sejarah Startup Peternakan Sapi di Indonesia

Tapak Tilas Sejarah Startup Peternakan Sapi di Indonesia – Sejak tahun 2005, pemerintah mencanangkan swasembada daging sapi dengan membatasi impor maksimal sebesar 10% dari total konsumsi nasional. Pada tahun 2012, terjadi pembatasan impor yang membuat harga daging sapi lokal meningkat tajam. Hal ini terjadi karena permintaan meningkat namun persediaan akan daging sapi terbatas. Walaupun demikian, daya beli masyarakat akan daging sapi masih tergolong rendah.

Pada periode tahun 2005-2013 daging impor lebih murah dibandingkan dengan daging lokal karena usaha peternakan di Indonesia didominasi oleh peternakan rakyat yang berskala kecil sehingga biaya produksi semakin mahal dan harga jual yang ditawarkan pun menjadi tinggi, bahkan lebih tinggi dari harga daging sapi impor. Sebanyak lebih dari 90% pasokan daging sapi lokal berasal dari peternakan rakyat skala usaha kecil sehingga produksi rendah dan biaya per unit produksi menjadi semakin tinggi.

Jika impor daging sapi tidak terkendali, maka harga daging sapi lokal dipasar akan tertekan harga impor yang murah dan para peternak akan terancam merugi.  Jika hal ini terjadi terus menerus, maka para peternak tidak berminat lagi untuk menjadi pengusaha sapi potong. Disisi lain, terdapat data yang menunjukkan bahwa permintaan konsumsi  daging sapi terus meningkat rata-rata 5,54% per tahun.

Sampai 2014, swasembada daging sapi yang dicanangkan untuk dicapai tahun 2014 belum dapat terpenuhi, sedangkan sebagian besar pasokan daging sapi di pasaran berasal dari daging sapi lokal peternakan rakyat usaha kecil. Bahkan di tahun 2016 Indonesia harus mengeluarkan anggaran sebanyak 1 triliun untuk impor sapi karena banyaknya daging sapi yang impor. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah usaha untuk mengubah sistem peternakan rakyat menjadi industri yang lebih cepat memproduksi sapi dengan jumlah yang banyak.

Ide kreatif yang muncul dari permasalahan

Dari masalah tersebut, kemudian muncul ide cerdas dari anak-anak muda untuk mengembangkan usaha peternakan sapi dengan pola kemitraan yang dipadukan dengan penggunaan teknologi yang semakin hari kian canggih. Salah satu kegunaan kemitraan ini adalah untuk mengatasi permasalahan kekurangan modal usaha. Penggunaan teknologi dapat meningkatkan produksi dan  produktivitas peternakan. Pola kemitraan juga dapat menolong para peternak dalam mendapatkan modal untuk mengembangkan usaha peternakan sapi miliknya. Teknologi yang dipilih pun sesuai dengan kebutuhan dan dapat digunakan oleh peternak sendiri.

Startup berbasis digital yang diinisiasi anak-anak muda ini dapat dimanfaatkan untuk membantu para peternak sapi yang berada di daerah-daerah. Startup ini akan menghubungkan para peternak potensial yang berada di daerah dengan masyarakat urban atau investor di perkotaan yang ingin beternak namun tidak memiliki lahan, keterampilan merawat hewan ternak, serta  waktu yang longgar. Startup yang dikembangkan berupa platform beternak online yang memudahkan pengguna untuk berinvestasi di peternakan melalui aplikasi mobile. Platform ini bisa memudahkan investor dalam melihat profil dan memilih peternak, serta memantau perkembangan ternaknya.

Startup-startup yang dikembangkan diharapkan dapat mendorong terjadinya perputaran uang sampai ke desa-desa, bukan hanya beredar di kota saja. Hal ini jelas dapat membantu para peternak yang ada di desa. Peternak di desa dapat dengan mudah memperoleh modal tanpa harus meminjam bank atau menggunakan jasa rentenir.

Salah satu startup yang membantu upaya pemerintah untuk mencapai swasembada sapi Indonesia ialah Bantuternak. Bantuternak ialah startup yang membantu menghubungkan pemodal dengan peternak yang membutuhkan modal. Bantuternak tidak hanya membantu peternak mendapatkan modal usaha namun juga memberikan pendampingan peternakan secra profesional. Pemodal yang menamkan modalnya melalui bantuternak akan mendapatkan bagi hasil sebanyak 30% keuntungan. Bagi sobat Banter yang ingin tau lebih banyak soal bantuternak dapat mengunjungi websitenya: www.bantuternak.com

BACA:  Tiga Jenis Pakan Sapi Potong

 

Sumber:

Rini Widiati, 2014, “Membangun Industri Peternakan Sapi Potong Rakyat dalam Mendukung Kecukupan Daging Sapi”, Yogyakarta: WARTAZOA Vol. 24 No. 4 Th. 2014. Hal. 191.

Nur  YH, Nuryati  Y, Resnia R, Santoso  AS, 2012, The Analysis  Of Factors And Projection  Of National Food Consumption:  The Cases Of Rice, Soybean And  Beef. Bul Ilmu Litbang Perdagangan.

Suswono, 2012., “Blue Print Program Swasembada Daging Sapi dan  Kerbau (PSDSK) 2014 Edisi revisi”, Jakarta: Kementerian Pertanian.

Humas UGM, “Bantu Ternak Aplikasi Penghubung Peternak dengan Pemodal” https://www.ugm.ac.id/id/berita/14048-bantuternak.aplikasi.penghubung.peternak.dengan.pemodal Diakses pada 14 November 2018 Pukul 13.01 WIB

Undang Santoso, 2001, “Tata Laksana Pemeliharaan Ternak sapi”, Jakarta: Penebar Swadaya, Hal 4.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *